Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang petani muda miskin. Dulunya dia adalah anak petani kaya, namun semua kekayaan itu sudah sirna seketika ayahnya meninggal. Ibunya membawa kabur harta kekayaan ayahnya, dan meninggalkan petani muda itu sendirian.
"Aku tak sanggup hidup menjadi petani miskin. Ini semua salah ibu. Mengapa ia tinggalkan aku sendiri disini dan bersenang-senang di luar sana tanpa memikirkan anaknya yang menderita," celoteh petani muda.
"Andai saja aku menjadi orang kaya, aku pasti akan bahagia." Kali ini ucapan petani muda terdengar sampai ke telinga kakek-kakek yang seketika berjalan di depan tempat tinggalnya.
"Hai anak muda, aku dengar kau ingin menjadi kaya?" tanya kakek sambil berjalan mendekati petani itu.
"Benar, Kek. Hanya dengan cara itu akan kucapai kebahagiaanku yang tertunda lama".
"Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku akan mengabulkan permintaanmu," kata si kakek.
Petani muda itu bingung atas ucapan kakek itu. Setelah beberapa hari petani muda itu ditakir oleh anak kepala desa yang kaya dan akhirnya mereka menikah. Jadilah petani muda itu seorang yang kaya.
Walau hidup penuh kekayaan ia merasa kebahagiaannya tidak ada. Setiap hari ia disuruh menjaga hasil kebun mertuanya dan harus mengecek semuanya. Lama kelamaan petani muda itu menjadi bosan dan muak.
"Aku muak dengan semua pekerjaan ini. Kekayaan ini tidak mendatangkan kebahagiaan sama sekali. Malahan hidupku tambah rumit dengan pekerjaan yang melelahkan ini," celoteh si petani muda.
Tiba-tiba kakek tua yang dulu pernah mendengar perkataan petani muda itu muncul di hadapan petani muda itu lagi.
“Siapa kau?” tanya petani muda.
“Aku adalah kakek yang dulu pernah mengabulkan permintaanmu.”
Si petani muda berpikir sejenak dan akhirnya mengingat siapa kakek itu.
“Kalau begitu, maukah kau kabulkan permintaanku lagi? Aku memang ingin menjadi kaya, tapi bukan begini caranya. Aku sama sekali tidak bebas dan bahagia. Maukah kau mengembalikan kehidupanku seperti dulu lagi?”
Si kakek hanya tersenyum dan tiba-tiba menghilang dari petani muda.
“Kakek, tunggu. Kakek!!”
Si petani muda tersadar dari tidurnya.
“Aku hanya bermimpi menjadi kaya. Tapi mimpi ini begitu nyata. Untunglah mimpiku tidak menjadi kenyataan.”
Mimpi tersebut telah menyadarkan petani muda itu tentang bagaimana mencapai kebahagiaan.
Terkadang kita merasa bahwa dengan menjadi kaya dan sukses, kita dapat bahagia. Namun pernahkah kita berpikir kalau orang kaya dan sukses belum tentu lebih bahagia? Kebahagiaan bukanlah tentang apa yang terjadi pada kita, kebahagiaan adalah tentang bagaimana kita mempersepsikan apa yang terjadi pada kita. Kebahagiaan adalah keterampilan menemukan hal yang positif untuk setiap hal negative, dan memandang suatu kemunduran sebagai suatu tantangan. Kebahagiaan bukanlah mengangankan apa yang tidak kita miliki, melainkan menikmati apa yang kita miliki.